Reviu Film Tolkien: Biopik Sang Penulis Saga Lord of The Rings

Poster Film Tolkien

“Satu cincin untuk menguasai semua, satu cincin untuk menemukan mereka, satu cincin untuk membawa mereka semua, dan mengikat mereka dalam kegelapan.”

Kutipan di atas tentu tidak asing bagi yang sudah pernah menonton atau membaca trilogi Lord of The Rings, yang menggambarkan betapa dahsyatnya kekuatan dari sebuah cincin. Satu cincin yang membuat bangsa Hobbit, Elv, Dwarf, dan Manusia harus bersekutu untuk melawan Sauron, Raja Kegelapan di Middle-Earth­—nama dunia tempat kisah ini berlangsung—dengan bala tentara Orc dan Troll-nya.

Nah film ini bercerita tentang J.R.R. Tolkien, penulis dari rangkaian kisah-kisah mengagumkan yang terjadi di dunia Middle-Earth tersebut.

Cara Menonton Film Ini

Sebenarnya saya sudah pernah melihat informasi mengenai film ini pada 1—2 tahun yang lalu. Mungkin karena tertutup dengan film-film lain yang lebih heboh kala itu atau kurangnya promosi, film ini terlewat begitu saja dari daftar film yang harus saya tonton di bioskop.

Saya menemukannya secara tidak sengaja ketika membuka aplikasi mobile Disney+ hotstar. Karena sedang bosan dengan referensi film/serial di aplikasi nonton sebelah, saya coba melihat daftar film yang ada di Disney, siapa tahu ada yang menarik. Benar saja, pada New Movies for You muncullah film ini.

Karena film biopik tentang penulis buku terkenal masih sangat jarang, saya langsung mengunduhnya. Mumpung sedang di tempat yang wifi­-nya kenceng, hehe.

Film dimulai dengan menayangkan Tolkien dewasa sedang berada di garis depan Perang Dunia Pertama, tentunya di medan perangnya yang khas di zaman itu, yaitu di parit-parit peperangan. Lalu cerita flashback ke masa lalu.

Kisah Tolkien Kecil

Cerita berpindah pada kisah Tolkien kecil, seperti apa kondisi dan situasi keluarganya, seperti apa daerah tempat tinggalnya. Shoot-shoot indah yang sekilas ditampilkan membuat saya langsung terbayang dengan keindahan Hobbitton.

Saya pikir, pemandangan alam desa Tolkien kecil inilah yang menjadi inspirasinya untuk menciptakan desa para Hobbit. Sepanjang film nanti kalian masih akan diberikan petunjuk-petunjuk kecil dari hal-hal yang mungkin mengilhami Tolkien untuk menciptakan karakter dan jalan cerita karyanya.

Sepertinya leluhur keluarga Tolkien berasal dari Jerman yang sudah pindah ke Inggris sejak lama. Nama Tolkien, untuk zaman sekarang pun terasa berbeda dari nama keluarga yang biasa dipakai oleh orang Inggris kebanyakan. Kemungkinan “Tolkien” adalah peng-Inggris-an dari “Tollkuhn”.

Kondisi ekonomi keluarga Tolkien yang buruk sejak ayahnya meninggal, memaksa ibu Tolkien untuk menerima tawaran seorang pastor gerejanya untuk pindah ke kota Birmingham. Peran ibunya diceritakan sangat besar pada apa yang akan menjadi keahlian Tolkien nanti: Bahasa dan Cerita.

Ibunya tidak hanya menceritakan dongeng sebelum tidur kepada Tolkien dan adiknya, tetapi mengkisahkannya dengan dramatis, menggunakan alat peraga dan akting. Ibunya juga mengajarkan sisi relijius dan kedekatan dengan lingkungan alam kepada kedua anaknya.

Kombinasi ketekunan, kedisiplinan, dan moral yang diajarkan langsung ibunya memberikan dasar yang baik untuk perkembangan intelektualitas Tolkien kelak.

Murid Sekolah Prestisius Inggris

Masa remaja Tolkien adalah masa penuh ketegaran. Bukan hanya untuknya, tapi juga adiknya. Untuk bertahan hidup, mereka harus menumpang hidup kepada seorang wanita Inggris kaya tanpa keluarga, yang sebelumnya sudah menampung seorang gadis untuk menjadi semacam anak asuhnya.

Pastor yang sama, yang sebelumnya menawarkan bantuan kepada ibu Tolkien, meyakinkan calon ibu asuh ini untuk menerima kakak-beradik Tolkien. Dia mengatakan bahwa Tolkien ini anak miskin tetapi sangat cerdas, yang sudah diterima menjadi murid di Sekolah King Edward’s. Sebuah sekolah prestisius di Inggris pada saat itu, bahkan sampai sekarang.

Pada zaman itu, struktur kelas sosial masih sangat diperhatikan oleh masyarakat Inggris. Sekolah King Edward’s yang merupakan sekolah elit, tentu kebanyakan berisi murid yang berasal dari keluarga kelas atas. Tolkien, yang hanya anak miskin dan bukan berasal dari keluarga terpandang rentan dipandang rendah oleh teman-temannya.

Tidak butuh waktu lama bagi Tolkien menemukan musuh di sekolah. Musuhnya bukan sekadar murid biasa, namun langsung berhadapan dengan anak Kepala Sekolahnya. Tetapi scene inilah yang akan membuat saya rispek pada gentleman atttidude’s yang diucapkan oleh Sang Kepala Sekolah:

“Pria itu harus berkawan, dari mana pun dia berasal. Dari kelas atas sampai kelas bawah”.

Sejak kejadian ini, kehidupan remaja Tolkien akan berubah. Tolkien akan menjalin persahabatan abadi dengan Robert Gibson, Geoffrey Smith, dan Christopher Wisemen.

Mahasiswa Oxford

Kepintaran di masa sekolah ternyata tidak cukup untuk membuat Tolkien dapat bertahan di lingkungan akademis yang ketat di Oxford. Nilainya cukup untuk melanjutkan kuliah, namun tidak untuk beasiswanya. Curhatan Tolkien kepada para sahabatnya soal ini akan mengingatkan saya kembali kalau jurang kelas sosial akibat perbedaan privilege mereka itu sangat nyata.

Di masa inilah Tolkien berada di situasi yang menggalaukan banget. Ada masalah uang, akademis, dan tentu saja, asmara. Kaitan hal-hal ini diceritakan dengan cukup bagus, sehingga pilihan pelik yang dihadapi Tolkien dapat saya pahami. Tolkien harus merelakan satu hal yang akan membebani perasaannya.

The Great War

Perang Dunia Pertama atau The Great War—karena untuk pertama kalinya terjadi perang berskala dunia—mengguncang kehidupan masyarakat Inggris, termasuk para mahasiswanya. Para pemuda inilah yang akan berbondong-bondong berbaris menuju garis depan perang, menyusuri hidup sampai kematian di parit-parit peperangan daratan Eropa yang suram dan beracun.

Tolkien dan para sahabatnya juga berjibaku di medan yang sama. Tolkien dan kedua sahabatnya, Robert dan Geoffrey berjuang sebagai pasukan Angkatan Darat Kerajaan. Christopher menjadi tentara Angkatan Laut Kerajaan. Adegan akan dikembalikan ke masa sekarang yang akan membuat kalian ngeh dari mana Tolkien mendapatkan ide untuk karakter dan cerita perjalanan Frodo dan Sam.

Tidak ada yang bisa menebak nasib dalam perang. Kalian akan menyaksikan betapa patah hatinya seseorang karena kehilangan akibat ganasnya perang.

Kisah Asmara

Saya sempat googling nama kekasihnya, Edith, dan mendapati bahwa kisah sesungguhnya dari akhir cinta kasih mereka akan jauh lebih mengagumkan dari yang diperlihatkan dalam scene-scene film. Beberapa hal menarik soal perjuangan Tolkien untuk Edith yang selalu tampak terkungkung dan pesimis adalah meskipun uangnya sangat pas-pasan, dia menabung koin demi koin agar bisa mengajak Edith makan di restoran mewah dan nonton opera favorit Edith.

Rayuan Tolkien kepada Edith tentu bukan berupa memainkan alat musik, menyanyi, atau gombalan receh. Dia menciptakan dongeng, lengkap dengan dunia dan karakter (bahkan bahasanya sendiri!) untuk Edith.

Kalian bisa menebak nanti, Edith akan menginspirasi Tolkien untuk menciptakan karakter apa.

Para Pemeran, Plot, dan Kesimpulan

Tolkien yang diperankan oleh Nicholas Hoult, yang dikenal karena membintangi serial film X-Men dan Edith oleh Lily Collins, pemeran utama dalam serial Emily in Paris, berakting dengan sangat bagus, terutama Hoult.

Tidak ada gimmick aktingnya yang mengganggu saya, semuanya larut dan lancar dalam plot cerita. Collins juga memainkan peran “anak asuh yang sebenarnya terkungkung oleh ibu asuh” dengan baik. Keresahan dirinya yang terpaksa menjalani keadaan yang tidak disukainya namun punya hasrat untuk bebas yang besar bisa disampaikan Collins dengan cukup baik.

Akting para sahabat Tolkien dan pemeran pendukung lainnya juga cukup baik, terutama pemeran Geoffrey.

Singkatnya, para pemeran dan plot cerita dapat bersatu dengan smooth dan sinematografinya bagus. Ditambah dengan scene-scene yang membuat saya mengalami oh moment karena referensi pada kisah dalam karyanya.

Hal-hal tersebut cukup untuk membuat saya merekomendasikan kalian untuk menonton film ini: penggemar Hobbit dan Lord of The Rings, atau siapapun yang mempunyai impian menjadi penulis. Selamat menonton!

5 tanggapan pada “Reviu Film Tolkien: Biopik Sang Penulis Saga Lord of The Rings”

  1. Wah, baru tahu ada film Tolkien ini. Kebetulan aku jg bisa dibilang penggemar film Lord of The Ring. Jadi penasaran dgn latar belakang kehidupan penulis bukunya, smpe bisa bikin buku fenomenal bgtu.

  2. Pingback: 5 Rekomendasi Film di Netflix Ini Akan Menghangatkan Hatimu

  3. Pingback: 5 Rekomendasi Film Disney+ Hotstar di Bulan Maret 2022

  4. Pingback: Once Upon a Time in China: Kisah Perjuangan Wong Fei Hung

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.