Mengapa Ribut Hanya Karena Beda Selera?

selera

Menurut saya perbedaan selera itu hal remeh temeh saja. Maka saya heran tiap kali lini masa media sosial dipanaskan oleh warganet yang perang twit dan tagar hanya karena mereka punya selera yang berbeda.

Selera itu sesimpel saya suka makanan pedas, kamu suka makanan manis. Kami suka pakaian berwarna gelap, kalian suka yang berwarna terang. Kita suka berlibur di pegunungan, mereka suka berlibur di pantai.

Karena selera itu manusiawi, perbedaan selera itu keniscayaan. Akan tidak adil kalau misalnya pembaca buku dengan pembahasan berat dan serius meremehkan pembaca fiksi ringan yang bisa dihabiskan dalam sekali duduk.

Misal kalau ada pendengar musik metal, elektrik, atau musik modern lainnya menghina penikmat musik dangdut, keroncong, atau campursari juga aneh. Yawong sekelas Ahmad Dhani saja mendengarkan semua genre musik, mengoleksi setiap album yang bisa dia peroleh, dan sangat menghormati para seniman dari genre tersebut.

Kita yang main gitarnya mentok di 5 kunci ini ngapain sok-sokan?

Selera bukan alasan untuk menghakimi

Masalahnya adalah seleramu saja tidak serta merta menunjukkan kalau kamu di atas yang lain. Konyol sekali kalau ada orang yang membanggakan bahwa dirinya belum pernah menonton film dan serial Korea (Selatan), dan mendengarkan K-Pop sama sekali.

Lalu dia menganggap dirinya lebih baik karena merasa tidak ikut-ikutan menggandrungi Hallyu (Korean Wave), seakan dia adalah penyintas suatu pandemi.

Buat saya, hal itu justru menunjukkan betapa sempit wawasannya. Dia pasti tidak tahu kalau film Korea sudah menang Piala Oscar? Atau boyband K-Pop BTS yang diundang ke Markas Besar PBB?

Justru dari Korea kita dapat melihat peluang, bahwa kita yang sama-sama orang Asia ini bisa bikin film dan lagu dalam bahasa nasional kita, dan dapat disambut dengan sangat baik oleh dunia.

Penikmat film atau musik Korea itu sama saja dengan kita yang juga menikmati budaya pop dari AS (Hollywood), Inggris, India (Bollywood), Cina (Hongkong, Taiwan), atau Jepang.

Beda selera dengan prinsip

Pernah perhatiin gak, bagaimana rumah makan Minang ada di mana-mana di Indonesia ini, padahal kebiasaan dan selera makan masyarakat kita di tiap daerah itu unik?

Menurut saya mereka bisa seperti itu karena mereka menyesuaikan bumbunya dengan selera masyarakat setempat. Sayur pelengkap hidangannya pun menyesuaikan. Pengusaha rumah makan Minang tidak ngotot menyajikan makanan Minang yang sama dengan asalnya apa adanya.

Mengompromikan sesuatu yang bukan hal prinsip itu wajar. Yang tidak wajar adalah jika menyamakan prinsip dengan selera. Selera bisa menyesuaikan dan terlalu remeh untuk didebatkan. Tetapi berbeda dengan prinsip.

Kita tidak bisa menganggap kalau Muslim yang tidak makan babi hanyalah persoalan selera kan? Atau pemeluk Hindu yang tidak makan daging sapi? ini bukan soal selera tetapi prinsip.

Prinsip yang orang pegang bisa berasal dari agama yang dianut, nilai-nilai dari kebajikan sukunya, atau norma hukum negaranya.

Orang bisa berdebat ngalor-ngidul, ngotot sampai keluar otot soal legalisasi ganja–dengan alasan ganja itu punya banyak manfaat–tetapi selama hukum kita mengategorikan ganja sebagai narkoba, mereka bisa apa?

Menyikapi perbedaan selera

Karena bukan hal yang prinsip, perbedaan selera bukan hal yang penting untuk didebatkan. Justru selera yang berbeda-beda menjadi opsi menarik yang bisa kita coba saat kita bosan dengan hal yang biasa kita konsumsi.

Misalnya kita bosan dengan selera makan kita sendiri, kita bisa bertanya kepada teman yang selera makannya beda untuk merekomendasikan makanan favoritnya. Teman kita yang butuh healing dengan suasana yang berbeda dari biasanya, bisa kita ajak untuk mencoba obyek wisata kesukaan kita.

Jadi, karena beda selera hanyalah hal remeh, janganlah diperumit.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.