Lompat ke konten

Kemampuan untuk Merasa Cukup

kemampuan merasa cukup

Bagaimana cara menentukan batas cukup dalam hidup kita?

Di tengah kehidupan yang makin kompetitif persaingannya, manusia cenderung mencari sebanyak mungkin asupan motivasi dan inspirasi dengan harapan bisa membantu mereka untuk mendapatkan keinginannya.

Era Motivasi

Saya masih ingat, dulu ketika era para motivator dan inspirator (kadang disebut juga sebagai trainer dan coach) sedang berjaya, Pemikiran dan ucapan mereka menguasai benak pemikiran masyarakat. Pesan mereka yang khas adalah bahwa hidup harus serba hebat, berlimpah, dan kalau bisa tampak mewah. Mereka bilang kita harus menetapkan tujuan hidup setinggi mungkin, dengan pencapaian sebesar mungkin.

Mereka menyampaikan beberapa cara yang bisa kita coba agar impian itu bisa terwujud. Yang paling heboh saat itu adalah seruan untuk menjadi pengusaha. Dengan dalil bahwa agar suatu negara bisa maju, persentase penduduknya yang menjadi pengusaha harus minimal 4%. Saat itu persentase pengusaha Indonesia masih jauh di bawah persentase minimal tersebut. Para motivator pun memanas-manasi agar semua orang menjadi pengusaha.

“Yang baru lulus kuliah jangan jadi pencari kerja! Jadilah pemberi kerja”

“Yang sudah jadi karyawan buruan resign aja! Malu kalau jadi tangan di bawah, harus jadi tangan di atas”

“Apalagi yang masih nganggur. Buka usaha sana!”

Kira-kira begitu lah jargon yang dulu sering kita dengar dari mereka. Ditambah beberapa kata manis yang menggoda seperti: “semua bisa jadi pengusaha”, “buka usaha itu mudah”, “financial freedom”, “pensiun dini”. Belum lagi kisah sukses orang yang memutuskan menjadi pengusaha. Alhasil waktu itu sepertinya semua orang bercita-cita jadi pengusaha, pebisnis, atau pedagang.

Beberapa tahun berselang, para “pengusaha” tersebut ada yang tambah besar usahanya, namun banyak juga yang harus merasakan realita hidup: berbisnis itu tidak mudah. Seringkali lebih sulit dari pekerjaan lainnya.

Era Keseimbangan

Lalu tren bergeser ke para inspirator yang lebih luas ajarannya dari motivator yang seringkali terlalu berfokus pada semangat ingin cepat sukses. Ajaran mereka tidak melulu soal cara mudah menjadi pengusaha, tetapi sudah mulai memberikan materi softskill lainnya dan lebih menghargai profesi yang bukan pengusaha (dan motivator).

Menurut saya, “dakwah” para motivator atau inspirator itu membawa beberapa dampak baik (tentu ada dampak buruknya juga) sehingga orang-orang kita bisa lebih berambisi dalam hidupnya.

Yang menarik, dalam kurun 3 tahun ini trennya bergeser lagi. Aktor tren ini adalah generasi Milenial dan generasi Z yang mengidamkan hidup yang lebih berimbang, sehat untuk jasmani dan jiwa. Rupanya, gaya hidup yang penuh dengan motivasi dan inspirasi untuk sukses yang begitu besar dari waktu sebelumnya, berimbas pada diri mereka.

Merasa jemu karena sudah merasa berusaha keras tapi tanpa hasil. Kelelahan yang amat payah karena mengejar cita-cita. Hingga merasa kosong padahal taraf hidupnya sudah lebih baik dari sebelumnya.

Saat ini generasi masa kini meminati ajaran untuk bermeditasi, mindfulness, hidup minimalis. Ingin mencari bahagia, makna hidup, bukan lagi sekadar sukses dengan satuan ukur materi.

Pentingnya Memiliki Kemampuan Merasa Cukup

Memiliki ambisi itu bukan sesuatu yang buruk atau memalukan. Termotivasi dan terinspirasi untuk sukses juga bukan sebuah bentuk cinta dunia yang berlebihan. Justru wajar kalau manusia punya keinginan dan ingin bergerak untuk mendapatkan keinginan tersebut.

Namun setelah era bergelimang motivasi, inspirasi, kisah sukses yang penuh keajaiban dan sebagainya, kita perlu penyeimbang. Kita perlu mengendalikan diri. Alatnya adalah rasa cukup.

Menyeimbangkan Hidup dengan Rasa Cukup

Berikut beberapa langkah yang dapat digunakan untuk mengendalikan semangat ambis kita:

Realistislah dengan Tujuanmu

Ketahui, sadari, dan ikhlas menerima kemampuan kita dengan jujur akan memudahkan kita menentukan tujuan yang realistis. Berlawanan dengan pesan para motivator yang menyuruh kita mempertinggi mimpi dan memperbesar keinginan, saya percaya langkah paling aman adalah sesuaikan tujuan atau cita-cita dengan kemampuan kita. Lalu sesuaikan juga seberapa tinggi, seberapa besar, seberapa lama usaha meraih hal tersebut.

Mencukupkan target karena menyesuaikan dengan kemampuan bukan tanda kurangnya kepercayaan diri, namun bentuk pengenalan diri atas kelebihan dan kekurangan diri yang baik.

Syukuri Hidupmu Sekarang

Syukur adalah cara kita menentukan batas cukup. Kita tidak harus menunggu sampai semua target tercapai baru bersyukur, tidak. Kita seharusnya belajar bersyukur tiap harinya, karena belajar bersyukur dengan kemampuan, keadaan, dan pencapaian kita itu tidak kalah sulit dari membangkitkan semangat untuk meraih mimpi.

Mengapresiasi setiap kemajuan dari apa yang kita kerjakan, walaupun hanya 1% saja kemajuannya akan membuat kita lebih menghargai proses, dan akhirnya akan melatih kesabaran dan ketabahan kita. Bisa jadi ketika kita mensyukuri pencapaian dalam kurun waktu tertentu, yang meskipun belum 100% kita sudah menentukannya sebagai batas cukup kita.

Misalnya dalam masa pandemi seperti sekarang ketika banyak yang berprofesi sebagai karyawan harus di-phk dari pekerjaannya, kita memutuskan bersyukur dengan performa kita walaupun tahun ini tidak menerima bonus. Nanti ketika pandemi berakhir dan kinerja perusahaan pulih, kita yang masih bekerja di perusahaan itu tentu berpeluang untuk mendapatkan bonus kembali dan bahkan jenjang karier yang lebih baik.

Evaluasi dan Menyesuaikan dengan Realitas Baru

Dalam perjalanannya, penting untuk memeriksa ulang apakah usaha kita masih on the track dengan tujuan yang ingin kita raih sebelumnya. Langkah terakhir untuk menentukan batas cukup adalah dengan menanyakan kepada diri kita hal-hal berikut:

Apakah hal-hal yang kita lakukan masih relevan dengan cita-cita kita?

Mungkinkah kita membuat tujuan yang tidak sebanding dengan kemampuan yang kita punyai?

Apakah kita sudah puas dengan usaha dan pencapaian kita?

Bisa jadi, kita sudah merasa cukup dengan pencapaian kita di suatu waktu walaupun belum mencapai secara penuh sesuai tujuan yang kita pernah buat. Kita bersyukur dan puas lebih dini karena mungkin kondisi di luar yang kita bisa kontrol berubah.

Atau setelah mendapat yang kita inginkan, ternyata kita bisa mendapatkan lebih karena sebelumnya kita mengukur terlalu rendah kemampuan diri.

Setelah memeriksa usaha, kemampuan, dan pencapaian diri, selanjutnya kita bisa melakukan penyesuaian. Mau menambah usaha dan target, atau malah menurunkannya. Mau menerima realitas baru dan menyusun strategi berdasarkan itu atau menyangkal realitas dan tetap berusaha berdasarkan kehaluan saja.

 

9 tanggapan pada “Kemampuan untuk Merasa Cukup”

  1. kalo dipikir-pikir, jargonnya dulu toxic juga ya. kalo manas-manasin doang tapi nggak pake solusi mah gampang 😅
    cukup ini kedengerannya simple tapi nggak gampang juga buat dilakuin ✌️ kudu komitmen dan sadar betul tujuannya soalnya hehe
    thank you tulisannya

  2. setelah berpikir ulang dan merenung, ternyata merasa cukup itu memang perlu dipelajari. sebuah kemampuan yang bisa mengontrol diri untuk terus bergerak tapi juga tidak merasa rakus. kayaknya kuncinya mindfulness, penuh pehatian dan perasaan hadir di masa kini. terima kasih udah berbagi insight kak

  3. Pingback: Menikmati Hal-Hal Kecil dalam Hidup itu bukan Hal Sepele

  4. Aku termasuk “korban” (korban haha…) era motivasi berarti ya… Dari SMA sih suka ikut seminar/training semacam motivasi gitu, kuliah makin gila lagi hehe… Mungkin bekal itu, jadi membuat aku sering berpikir dan tahu, “kalau aku sudah salah jalan”, dan menuntun balik lagi ke track. Tapi, “gara-gara” kebanyakan motivasi juga mungkin, aku jadi gimana ya disebutnya …mungkin semacam kebanyakan ambisi… gitu. Yg malah membuatku lelah dan lupa merasa cukup. Bersyukur selalu menjadi kunci, hingga akhirnya sekarang lebih menerima dengan tetap optimis namun realistis^^

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.