Lompat ke konten

Dunia ini Hanyalah Arena Bermainnya Negara-Negara Besar

imgflip.com

Sebelumnya, saya tidak mau ikut-ikutan berkomentar soal perang Rusia-Ukraina. Di media massa sudah banyak yang membahas. Di media sosial sudah banyak yang meributkannya. Hanya berharap agar korban jiwa dari warga sipil Ukraina dapat terminimalkan. Karena perang dimanapun, yang paling menderita warga sipilnya kan?

Istilah “perang” ini bisa diperdebatkan. Ada yang berpendapat kalau baru bisa disebut perang, apabila pihak-pihak yang terlibat konflik mengumumkan secara resmi tindakan militernya melalui sebuah deklarasi perang. Yang Rusia baru umumkan adalah semacam pengumuman serangan militer spesifik.

Pendapat lain mengatakan, bahwa ini disebut perang pun bukan. Karena tidak imbang, antara kekuatan militer Rusia dengan Ukraina yang lebih lemah. Ini seperti Amerika Serikat yang gemar menyerang negara-negara kecil–tapi besar potensi ekonominya–alias invasi. Jadi istilah yang tepat adalah Rusia menginvasi Ukraina.

Perang Mengubah Kenangan

Melihat konflik ini, saya jadi teringat memori tahunan yang lalu saat menonton pertandingan liga premier Inggris. Saat Chelsea dengan Roman Abramovich lagi ganas-ganasnya di bursa transfer. Chelsea membeli Andriy Shevchenko dengan harapan besar. Abramovich lebih tepatnya yang berharap besar kepada Shevchenko.

Abramovich sepertinya sangat gandrung pada Shevchenko. Dia bahkan rela berkonflik dengan Jose Mourinho, pelatih yang memberikan prestasi ke Chelsea demi memberi Shevchenko tempat di klub.

Namun Shevchenko tidak kunjung mencetak gol. Sepertinya masalah adaptasi dengan liga Inggris yang berbeda tempo permainan dengan liga Italia. Hingga momen yang ditunggu tiba. Shevchenko akhirnya mencetak gol. Dia terlihat sangat gembira, dan sangat terlihat dari selebrasinya.

Abramovich pun tidak kalah gembiranya. Dengan gayanya yang khas dia berdiri, bertepuk tangan dengan senyum riang dari kursi VIP stadion. Rekannya yang duduk menemaninya membisikkan sesuatu padanya, tetapi matanya hanya terpaku melihat ke arah Shevchenko. Shevchenko pun terlihat mengacungkan tangannya ke arah kursi Abramovich. Pembuktian dirinya ke sang bos. Pemandangan menyenangkan pada masanya.

Kini, Abramovich yang warga Rusia dan sahabat Putin, mengundurkan diri dari kepengurusan Chelsea. Andriy Shevchenko, mantan kapten tim nasional sepak bola Ukraina, menyerukan perdamaian antar kedua negara.

Lini Masa Twitter adalah Medan Perang Siber

Lini masa Twitter, tempat di mana pendapat dan analisis kompeten seorang ahli, akan dihargai sama dengan pendapat amatir warganet kurang baca nan sotoy, membahas topik ini dengan serius.

Ada yang masih bercanda juga sih. Tetapi intinya begini: keributan warganet di sana sudah berlebihan.

Saya bukan sarjana Hubungan Internasional. Sarjana Ilmu Politik pun bukan. Saya bukan berasal dari latar belakang kompetensi yang pas dengan isu ini. Tetapi saya yakin, pendekatan kemanusiaan dan kepentingan nasional dapat digunakan untuk melihat isu ini.

Selain pertimbangan kemanusiaan, harusnya sudut pandang yang digunakan adalah kepentingan nasional. Gunakan rasa kemanusiaan dan kepentingan nasional untuk membahas perang Rusia-Ukraina. Jangan mau diserempetkan ke pembenaran perang.

Beberapa akun Twitter warganet lokal, dengan mengkhawatirkan men-twit bahwa invasi Rusia ke Ukraina itu wajar dan dapat dibenarkan. Lalu mereka menggunakan analogi-analogi yang menurut saya tidak cocok jika digunakan pada konteks antar bangsa-antar negara.

Tingkah brutal AS kepada kawasan Timur Tengah, Amerika Latin, dan Afrika bukan berarti membolehkan Rusia melakukan hal serupa. Dukungan Presiden Ukraina terhadap aksi zionisme Israel yang terkutuk juga jangan sampai memengaruhi simpati kita pada warga sipil Ukraina.

Kelompok di lini masa terbagi menjadi kubu pro Rusia, yang tubir dengan kubu pro Ukraina (Amerika Serikat dan sekutu). Ada kubu ketiga, yang berusaha netral dengan hanya mempertimbangkan apa dampak peristiwa ini buat Indonesia. Ada juga kubu penyimak lini masa. Mereka menikmati tontonan perang kata-kata di dunia maya. Kata makian terselip dari masing-masing kubu.

Mental Warga Negara Dunia Ketiga

Mungkin memang seperti itulah tabiat kita dan warganet negara dunia ketiga lainnya. Seru setiap membahas pemain pertandingan (negara besar) beraksi. Bahkan sampai topik perdebatannya lepas dari sisi kemanusiaan dan kepentingan nasional, diganti dengan ego mereka yang tidak mau kalah terlihat pintar di media sosial.

Apa iya di lini masa negeri sendiri, masih mau ribut membela kepentingan pihak asing? Karena menurut saya itu hal yang sangat konyol. Tetapi okelah. Mengingat bahwa warga kita bisa beneran tawuran offline karena mendukung klub dan tim nasional sepak bola negara asing, harusnya saya tidak merasa konyol lagi.

Maka ketika meme yang menjadi banner artikel ini lewat di tengah serunya tubir, saya jadi tertarik untuk menulis sesuatu. Meme itu konteks aslinya adalah Bu Guru Minerva McGonagal yang sedang pusing dengan ulah trio Harry Potter, Ronald Wesley, dan Hermione Granger.

Dia memarahi mereka, karena sepertinya trio ini selalu terlibat dalam setiap keributan yang terjadi di sekolah.

Meme itu menyesuaikan dengan konteks dunia, yang menyampaikan bahwa selalu ada keterlibatan 3 negara besar itu: Amerika Serikat (AS), Cina, dan Rusia dalam setiap konflik yang terjadi di dunia.

Memang, sejak perang dunia ke-2 peran ketiga negara itu–terutama AS–sangat besar kontribusinya menggerakkan perubahan dunia. Ke arah yang baik maupun buruk. Termasuk di Indonesia.

Mohon warganet ingat, dalam sejarah perseteruan ketiga negara besar itu, mereka tidak pernah benar-benar saling berhadapan. Mereka menggunakan apa yang disebut sebagai proxy. 

Perangnya disebut proxy war, karena yang berkonflik kepentingan adalah ketiga negara itu, namun yang berperang di lapangan adalah negara atau kelompok lain yang mereka sokong dari belakang.

Ah, andai saja para penguasa Ukraina dan Rusia mau mindfulness dulu sejenak.

Sadar penuh pada dampak buruk yang akan menimpa rakyat Ukraina dan Rusia akibat konflik militer ini.

Apakah mereka akan tetap dalam sikap yang sama, yang menyebabkan perang ini terjadi?

Penutup

Semacam peribahasa Jawa, nabok nyilih tangan. Menggunakan tenaga pihak lain untuk menyerang musuh. Kita harus berhati-hati karena bentuk perang bisa berbeda-beda.

Sekarang medan perang mungkin beralih ke media sosial. Perang legitimasi dan memperebutkan keberpihakan warganet. Perang memperebutkan opini dominan di ruang digital. Kita kalah jika berpihak dengan sembrono.

Terakhir, saya cuma ingin mengingatkan. Seperti pepatah: dunia ini sejatinya seperti orang yang sedang mengantri untuk minum, dunia juga sejatinya hanyalah tempat bermain bagi ego negara-negara besar.

Kita warga negara dunia ketiga nonton saja mereka bermain dengan cermat dan netral. Kita akan bersorak mengejek pihak yang bermain kasar dan mencelakakan pihak lain. Tetapi kita ganti bersorak memuji jika permainan berlangsung baik, damai, dan saling menguntungkan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.