Lompat ke konten

Cina Hanyalah Peradaban Tua yang Mencoba Bangkit Kembali

jakartaglobe.id

Melihat berita kepongahan Cina di Laut Cina Selatan yang mengakibatkan konflik dengan banyak negara, khususnya masalah Laut Natuna Utara yang mereka klaim, membuat saya bertanya: Kok mereka bisa sepercaya diri itu?

Apakah karena sekarang mereka merasa menjadi negara maju dan besar?

Kemajuan ekonomi Cina saat ini juga merupakan sebuah keajaiban. Bahkan sering disebut sebagai rekayasa sosial paling besar dan berhasil di dunia.

Privilege apa yang mereka punya dan tidak kita miliki?

Peradaban Tua yang Eksis hingga Kini

Saya yang tadinya sedang anteng membaca buku Dari Puncak Bagdad, entah kenapa jadi tergoda untuk menengok peradaban di sebelah timur jauhnya: Cina.

Saya jadi baca ulang manga tentang kisah Zaman Tiga Negara.

Pada zaman Dinasti Umayyah dan Abbasiyah yang berlatar waktu tahun 600 s.d. 1300-an Masehi, saya masih cukup takjub dengan kemajuan teknologi perang, sosial, ilmu pengetahuan, serta dinamika politiknya yang rumit.

Nah, Cina pada tahun 200 s.d. 300-an Masehi dalam periode Zaman Tiga Negara sudah se-complicated itu. Lebih ruwet, mungkin. Bangsa Cina pun saat itu sudah terbiasa dengan bangkit dan runtuhnya para raja dan kaisar karena pergolakan konflik kelas sosial dan keyakinan religius.

Tapi segala dinamika sejak dini di daratan Cina itu malah mematangkan peradaban mereka. Teknologi bergerak maju seiring kebutuhan peralatan tempur. Produktivitas ekonomi juga ditumbuhkan untuk memenuhi logistik perang.

Lalu saat satu kekuatan mulai mendominasi kekuasaan sehingga kondisi menjadi lebih stabil, peningkatan pendidikan dan penyerapan talenta warga sipil dari berbagai daerah digalakkan untuk mengisi pos-pos administrasi untuk mengelola negara.

Mobilisasi penduduk yang diakibatkan pemindahan ibukota kekaisaran karena pergantian dinasti yang berkuasa, maupun karena proyek-proyek besar seperti pembangunan Tembok Besar Cina, membantu masyarakat di daratan Cina untuk matang menjadi sebuah bangsa sejak ribuan tahun lalu.

Seperti Ikan yang Berada di dalam Air

Setelah hancur lebar digempur konflik saudara yang berkepanjangan setelah era Dinasti Qing, bangsa Cina menemukan momentum kembali setelah kelompok komunis menguasai daratan Cina. Kestabilan mulai muncul dalam kondisi satu pihak mendominasi kekuasaan. Komunisme.

Komunisme yang menghendaki tatanan serba tunggal dan tersentral, cocok dengan kondisi masyarakat Cina yang sebelumnya terpecah dalam berbagai kelompok. Yang berbeda disatukan, dan corak-corak lain yang tersisa diseragamkan. Persatuan secara mantap–baik yang diusahakan dengan atau tanpa kekerasan–hadir kembali di daratan Cina.

Sayangnya, sistem komunisme secara konyol dan tragis segera menampakkan sifat aslinya. Masyarakat Cina yang baru saja dapat bernapas lega karena perang–melawan Jepang dan Nasionalis vs Komunis–selesai, harus dihadapkan dengan kebijakan-kebijakan ala rezim komunis yang sangat memberatkan.

Mao Tse Tung yang awalnya menyebarkan paham komunis sebagai sistem yang menjanjikan “sama rasa sama rata” dalam kemakmuran, ternyata menjelma menjadi “sama rasa sama rata” dalam penderitaan.

Hanya elit partai komunis dan pemerintah yang disejahterakan, dan mereka pun menjadi strata kelas sosial baru di masyarakat yang memimpikan sebuah masyarakat tanpa kelas. Ironis ya?

Untungnya usia manusia ada batasnya. Maka ketika Mao Tse Tung sudah masuk jadwal berpulang ke Penciptanya, rezimnya pun runtuh. Deng Xiao Ping muncul menjadi pemimpin.

Dengan keyakinan pragmatisnya “tidak peduli dengan kucing berwarna apa, yang penting bisa menangkap tikus”, dia mulai mengadopsi secara perlahan kapitalisme yang dulu dijadikan “setan yang harus dimusuhi” oleh Mao.

Berkat Deng, ideologi “sosialisme dengan karakteristik Cina” menjadi pendobrak kemunduran dan kebangkitan Cina modern.

Meminjam ucapan Liu Bei tentang hubungan dirinya dengan Kongming: seperti ikan yang berada di dalam air, akhirnya Cina menemukan sistem yang menjadi habitatnya untuk maju.

Privilege Cina adalah Kesadaran sebagai Satu Bangsa

Perang berlarut-larut, serta penderitaan di bawah satu atap tirani yang sama telah menyatukan masyarakat Cina menjadi satu bangsa sejak zaman dahulu. Pemahaman modern mengenai republik yang dibawa oleh Sun Yat Sen hanya memberikan kerangka penguat atas masyarakat yang sudah merasa homogen.

Ditambah dengan komunisme yang mengesampingkan agama secara ekstrim, relatif tidak ada hambatan dan sekat bagi negara dalam usaha penyatuan masyarakatnya. Mereka sudah selesai dengan kemajemukan. Mereka menyamarkan kemajemukan itu sampai hampir tidak terlihat lagi.

Tentu dalam proses menyamarkan kemajemukan tersebut, harus diperhatikan seberapa parah dampaknya pada hak asasi manusia kelompok minoritas, seperti umat Islam dan warga Tibet.

Kepercayaan diri sebagai satu bangsa yang sudah firm memudahkan langkah Cina untuk bergerak maju, mengurusi hal lain secara serius seperti kemiskinan.

Pemerintah Cina disebut berhasil mengentaskan secara masif sebanyak hampir 800 juta warganya dari kemiskinan dalam kurun waktu 40 tahun. Yang berarti sekitar 75% angka kemiskinan dunia! (sumber)

Akhirnya, kemantapan beridentitas sebagai satu bangsa inilah yang menurut saya menjadi privilege Cina. Sebuah privilege yang diperoleh dari perjalanan sejarah yang panjang dan sudah sangat lama. Berdarah-darah juga tentunya.

Kesadaran sebagai satu bangsa (dengan sistem sosial yang dikondisikan pemerintah) ini juga yang membuat masyarakat Cina bisa beradaptasi dengan relatih mudah pada sistem kapitalisme.

Menurut saya, jika tidak ada peristiwa bencana alam berskala besar atau perang nuklir, sudah hampir pasti dalam waktu 10 tahun ke depan, Cina akan resmi menjadi salah satu negara adikuasa dunia.

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.