Perihal Lainnya

Sebuah Pesan untuk Anakku Kelak

Untuk anakku yang belum terlahir,

Indonesia adalah negeri sejuta karunia dari Tuhan. Dari ujung barat ke timur, dari udara sampai menembus ke buminya, akan Kau temui karunia. Manusia-manusianya pun dikenal sebagai bangsa ramah dan santun dari Timur. Selalu menyambut ramah tamu yang masuk, menjaga kehormatan tamunya.

Tapi Nak, segala yang disebut karunia itu seakan menjelma menjadi kutukan. Negeri ini selalu menjadi rebutan. Bangsa-bangsa asing yang terkesima dengan kekayaan bumi nusantara ini, yang terheran-heran dengan keramahan penduduknya, menjadi silap. Mereka tidak ingin sekedar bertransaksi biasa, mereka ingin berkuasa.  Dan para pendahulu kita yang menyadari niat jahat tamu asing telah berjuang, dengan setiap bulir nyawa yang mereka miliki menyongsong kematian.

Diawal-awal abad keserakahan Eropa itulah, para pendahulu kita kewalahan menghadapi musuh asing dengan senjata yang lebih canggih. Mereka juga kalah karena strategi musuh yang lebih modern, hasil dari peradaban ilmu yang lebih beradab dari negeri kita ketika itu. Bukan saja dari para tamu asing itu, tapi dari saudara yang sama warna kulit dan bentuk hidungnya dengan kita waspadalah dengan mereka. Telah banyak kisah tragis pengkhianatan oleh saudara sendiri yang terbutakan oleh iming-iming kekuasaan dan harta semu dari penjajah, menikam perjuangan dan menindas bangsa sendiri.

Karena ilmu kita kalah. Karena kesadaran akan persatuan yang rendah kita mudah menyerah. Karena cita-cita yang dibenamkan paksa oleh penjajah, berabad kita terjajah. Maka camkan Nak:Selengkapnya »Sebuah Pesan untuk Anakku Kelak

Kutipan-kutipan yang Patut Direnungi dari Bumi Manusia

Bumi Manusia, Tetralogi Buru, Pramoedya Ananta Toer

Bumi Manusia, Cetakan Ketiga, Hasta Mitra, 1980.

Bumi manusia adalah salah satu bagian dari tetralogi Pulau Buru karya Pramoedya Ananta Toer. Bercerita mengenai minke dan ber-setting waktu pada akhir abad 19 di Indonesia zaman kolonialisme Belanda, yang menggambakan situasi sosial budaya yang terjadi saat itu. Seperti kita ketahui, minke yang merupakan tokoh utama dalam cerita ini adalah imajinasi Pram terhadap tokoh yang benar-benar ada, salah satu tokoh pejuang pergerakan nasional modern di Indonesia Raden Tirto Adi Suryo.

Dari sini juga dapat dilihat keluasan pengetahuan Pram terkait setiap aspek dalam cerita, yang diwakilkan oleh dialog setiap tokohnya. Berikut adalah beberapa kutipan yang menurut saya patut direnungkan dan masih relevan sampai saat ini:Selengkapnya »Kutipan-kutipan yang Patut Direnungi dari Bumi Manusia

Jaga Pergaulanmu agar tetap Positif

lingkungan pergaulanSeperti kita tahu bahwa ada ungkapan: “Perumpamaan teman yang shalih dengan yang buruk itu seperti penjual minyak wangi dan tukang pandai besi. Berteman dengan penjual minyak wangi akan membuatmu harum karena kamu bisa membeli minyak wangi darinya atau sekurang-kurangnya mencium bau wanginya. Sementara berteman dengan pandai besi akan membakar badan dan bajumu atau kamu hanya akan mendapatkan bau tidak sedap“, seperti itulah kuatnya lingkungan pergaulan kepada sikap dan karakter kita.
Jika kita bergumul dengan orang-orang yang memancarkan aura negatif seperti suudhzonan, paranoid, curigaan dan sikap negatif lainnya, lebih kurang kita akan memiliki sikap yang sama dengan mereka. Bergaul dengan orang-orang seperti itu, apalagi dengan intens, akan mematikan potensi kita. Kita tidak akan berkembang. Kita akan melambat, terhambat dan tertekan oleh aura negatif yang mereka keluarkan. Sikap kita akan menjadi sama dengan mereka karena alur pikiran kita akan menyesuaikan dengan mereka, alur pikiran yang negatif. Saya berkata begini karena saya sendiri telah merasakannya. Dimana saat kita akan berbuat lebih untuk sesuatu yang lebih baik kita akan “dimatikan” dengan larangan dan intervensi dari mereka, dengan sikap meremehkan dan perlakuan yang seolah berkata “kamu tidak bisa melakukan itu”, “itu salah”, dan yang paling parah adalah “kamu jangan buka masalah baru deh”.
Selengkapnya »Jaga Pergaulanmu agar tetap Positif