Perihal Lainnya

Ragam Kuliner Daerah Harusnya Mempersatukan, Bukan Memecah Belah

Ragam Makanan Indonesia

Ragam Makanan Indonesia (redaksi24.com)

Kebanyakan orang suka makan, termasuk saya. Kita sebagai bangsa, memiliki semacam nasionalisme (atau primordialisme?) tersendiri terhadap makanan khas Indonesia. Kita tentu tahu soal rendang yang selalu kita banggakan sebagai makanan paling lezat di dunia, dan tempe sebagai produk makanan yang dijuluki sebagai superfood karena kandungan gizinya, asli dari Indonesia.

Bahkan kalau saya boleh menyebut, lidah orang Indonesia cenderung chauvinis kalau soal makanan. Bisa kita lihat dari banyaknya orang Indonesia yang berpergian ke luar negeri membawa bumbu, sambal, dan mi instan, sebagai penambal rasa lapar lidah mereka dari hambarnya rasa makanan di sana.

Selengkapnya »Ragam Kuliner Daerah Harusnya Mempersatukan, Bukan Memecah Belah

4 Tips agar tidak Salah Membeli Buku

12books12months.com

12books12months.com

Berawal dari keinginan untuk merapikan koleksi buku di lemari, aku menemukan beberapa buku yang membuatku bingung kenapa dulu bisa sampai membelinya. Aku pegangi satu persatu buku tersebut dan mencoba mengingat kembali alasan membelinya. Beberapa buku yang aku beli adalah karya dari para motivator yang waktu itu sedang terkenal. Sisanya terdiri dari buku teknis dari yang aku kira akan menjadi profesiku seumur hidup, dan (yang aku kira) buku agama.
Aku menumpuk dan memisahkan buku-buku tersebut. Banyak dari buku itu yang tidak kubaca sampai selesai karena gaya penulisannya membosankan dan ceritanya sudah tidak menarik lagi. Sisanya adalah buku yang isinya tidak sesuai dengan ekspektasi ketika dulu membelinya.  Padahal tumpukan buku itu adalah bentuk pemborosan dari ruang, uang, dan waktu. Dari masalah tersebut, aku belajar beberapa hal yang bisa dilakukan untuk menghindari kesalahan dalam membeli buku terulang.Selengkapnya »4 Tips agar tidak Salah Membeli Buku

Memulai Tahun Baru dengan Membereskan Hal-Hal Kecil Terlebih Dahulu

Sudah lama sejak tulisan terakhirku di blog. Mungkin seperti kebanyakan kaum penunda sejati: menunggu waktu yang tepat untuk menulis lagi. Biasanya, awal tahun yang baru adalah waktunya.

Aku pernah menulis dengan tema tahun baru, tapi bukan tentang resolusi. Aku menulis tentang evaluasi hidup di tahun sebelumnya. Semacam introspeksi. Cukup berbeda dengan tema umum, yang biasanya mem-posting tentang cita-cita, rencana-rencana, target-target di tahun baru. Tapi akhirnya hal itu menghasilkan sesuatu yang baik bagiku. Aku memang mengawali tahun itu dengan pemikiran yang cukup jernih,  terkait juga dengan pilihan karir yang baru dan berbeda dari sebelumnya.

Beberapa kali aku membaca percakapan tentang atomic habbits di dunia maya. Percakapan tersebut membahas tentang kebiasaan kecil yang akan memengaruhi kebiasaanmu secara keseluruhan. Referensi serupa di Youtube juga merekomendasikan video-video motivasi dari perwira Navy Seal maupun U.S. Marine yang mengatakan: harimu ditentukan sejak dari kasur tempatmu tidur. Omong kosong soal menaklukkan hari kalau kita gagal merapikan tempat tidur kita. Seize the day diawali dengan rapikan kasurmu dulu!Selengkapnya »Memulai Tahun Baru dengan Membereskan Hal-Hal Kecil Terlebih Dahulu

Senyum Mereka, Orang-orang yang Kita Pinggirkan

Keluarga Gerobak/m.merdeka.com

Keluarga Gerobak (m.merdeka.com)

Bisa dibilang aku adalah orang yang susah tersenyum. Bukan berarti aku tidak pernah atau tidak bisa tersenyum lho ya. Hanya saja murah senyum bukanlah default mukaku. Sehingga kesan pertama orang padaku adalah jutek, dingin, atau kalau aku kedapatan beberapa kali tersenyum, akan disebut kalem haha.

Buat orang sepertiku—banyak orang yang juga pelit senyum sepertiku, antonim dari murah senyum—sering disalapahami dengan sedang ada masalah. Semakin jarang senyum, akan diartikan semakin berat pula masalahnya. Waduh! Padahal ya tidak begitu, memang bentukan muka saya seperti ini hehehe.

Nah dalam tulisan kali ini, aku mau mengutarakan keherananku atas beberapa fenomena yang kuamati. Aku lahir dalam keluarga sederhana di mana kebutuhan pokokku sebagai anak tercukupi: pangan, sandang, papan, dan pendidikan (dibiayai orang tua sampai S1). Dengan input seperti itu, tentu orang tuaku berharap output yang baik. Minimal bisa bekerja kantoran dengan gaji tetap tiap bulan. Pokoknya bisa masuk dalam kategori mapan, atau dalam istilah demografi ekonominya termasuk dalam warga dengan pendapatan menengah (walaupun tetap paling bawah dalam spektrum menengah wkwk).  Begitu juga dengan teman-teman yang lain, yang berasal dari kondisi keluarga yang kurang lebih sama denganku—bahkan tidak sedikit yang berasal dari tingkat kemakmuran yang jauh lebih baik.

Masuklah kami dalam rutinitas khas orang kota. Berangkat kerja-kerja-pulang kerja. Di akhir pekan bersosialisasi, berlibur, atau sesederhana beristirahat dari pagi sampai pagi lagi. Rutinitas yang kami pikir normal dan wajar. Rutinitas yang menjemukan, tetapi memberi rasa aman. Dan dari keadaan ini, kami melihat orang lain yang kami anggap tidak seberuntung kami, dengan pandang iba. Misalnya penjual keliling, kuli angkut, buruh tani, tukang gerobak sampai tukang panggilan yang sering terlihat di bawah flyover kota-kota besar.Selengkapnya »Senyum Mereka, Orang-orang yang Kita Pinggirkan

Dalam Masa Pandemi, Kita Semua Mencoba Bertahan

black plague pinterest

sumber: pinterest

Kita tidak sedang baik-baik saja. Keadaan di mana kita harus menutup dan menjaga jarak dari yang lainnya ternyata melelahkan. Bahkan bagi kaum introvert sekalipun. Mereka yang biasanya akan sangat menikmati momen untuk tidak kemana-mana, selalu ingin segera pulang, kali ini juga terdampak kejemuan. Yang paling tenang pun merasa jemu sekarang.

Pandemi ini menyebabkan kita sebagai anggota masyarakat mengubah cara berinteraksi. Ya memang, banyak yang tidak mau berubah. Masih saja ada yang menolak untuk memperhatikan bahwa dalam situasi yang sejatinya genting ini kita harus rela berubah, tetapi tidak melakukan apa-apa. Alasannya sangat “tidak berdosa”, yaitu: “toh kami masih baik-baik saja”.Selengkapnya »Dalam Masa Pandemi, Kita Semua Mencoba Bertahan