Buku

Mengulas – resensi buku fiksi dan non fiksi

Rantau 1 Muara: Akhir Kisah Sang Perantau

rantau1muara

sumber: wikipedia

Akhirnya sampai juga pada seri terakhir dari trilogi novel Negeri 5 Menara. Berkisah mengenai perjalanan Alif Fikri dari seorang anak baru gede yang gamang akan masa depannya menjadi pria dewasa yang menemukan cita dan cintanya. Bisa dibilang bahwa tumbuh kembang seorang Alif Fikri, baik dari segi usia maupun pemikiran, termonitor dengan cukup jelas dalam trilogi ini.

Bagi saya, Rantau 1 Muara menjadi menarik karena memberikan faktor makro atau peristiwa eksternal yang memang terjadi. Rantau 1 Muara diawali dengan Alif Fikri yang telah kembali dari Kanada, dan harus melanjutkan kuliah S1-nya hingga akhirnya lulus. Dengan pengalaman belajar dari luar negeri dan karya tulisnya yang sudah diakui oleh banyak media lokal, sepertinya akan mudah baginya untuk mendapatkan pekerjaan bergaji tinggi di perusahaan besar. Namun ternyata terjadi peristiwa eksternal yang tidak disangka-sangka: krisis moneter 1998. Yang berakibat pada kekacauan ekonomi makro yang segera merembet menjadi krisis multi dimensi, merujuk pada kekacauan lintas sektor yang terjadi di Indonesia. Kekacauan ekonomi disusul oleh kekacauan politik, keamanan, sosial dan hukum.Selengkapnya »Rantau 1 Muara: Akhir Kisah Sang Perantau

Ranah 3 Warna: Sebuah Usaha Mengingat Kembali

“…..Rupanya man jadda wajada saja tidak selalu cukup. Aku hanya akan seperti badak yang terus menabrak tembok tebal. Seberapa pun kuatnya badak itu, lama-lama dia akan pening dan kelelahan…..Jarak antara usaha dan hasil harus diisi dengan sebuah keteguhan hati…..”

RANAH 3 WARNA

Ranah 3 Warna

Buku ini mengantarku kepada cuplikan masa di mana diri sedang diuji kencang dan membutuhkan usaha yang sangat untuk bersabar. Kisah SMA tidak hanya menawarkan kesenangan dan kebanggaan, tapi juga ujian-ujian “kecil” yang melatih mental kita untuk siap menghadapi ujian yang lebih besar. Pun begitu dengan kisah-kisah berikutnya sampai sekarang.

Kisah Alif selepas dari Pondok Madani yang penuh seru dan debar semangat dalam Negeri 5 Menara akan menemukan Selengkapnya »Ranah 3 Warna: Sebuah Usaha Mengingat Kembali

HOS Tjokroaminoto: Guru Bapak Bangsa

hos tjokroaminoto

HOS Tjokroaminoto (id.wikipedia.org)

Kalau ada yang mengikuti cerita Naruto, pasti kenal yang namanya hokage ketiga atau yang biasa dipanggil dengan nama Guru Sarutobi. Dia guru shinobi yang hebat, murid-muridnya: Jiraiya, Orochimaru dan Tsunade. Tapi seperti yang kita tahu, muridnya banyak yang mengambil jalan berbeda dengan gurunya ini, bahkan cenderung saling bermusuhan. Nah, kisah Tjokroaminoto ada kemiripan dengan hokage ketiga. Sebagai perkenalan coba baca syair beliau ini:

Lelap terus, dan kau pun dipuji sebagai bangsa terlembut di dunia
Darahmu dihisap dan dagingmu dilahap sehingga hanya kulit tersisa
Siapa pula tak memuji sapi dan kerbau?
Orang dapat menyuruhnya kerja, dan memakan dagingnya
Tapi kalau mereka tahu hak-haknya, orang pun akan menamakannya pongah, karena tidak mau ditindas
Bahasamu terpuji halus di seluruh dunia, dan sopan pula
Sebabnya kau menegur bangsa lain dalam bahasa kromo dan orang lain menegurmu dalam bahasa ngoko
Kalau kau balikkan, kau pun dianggap kurang ajar

Syair di atas ditulis oleh Haji Oemar Said (HOS) Tjokroaminoto, legenda pergerakan nasional Indonesia. Jika kita sepakat bahwa Sukarno, Hatta, Syahrir dsb adalah para pendiri bangsa, maka kita layak menyebut HOS Tjokroaminoto sebagai Gurunya Para Pendiri Bangsa. Karena beliau dikenal sebagai Pemimpin Sarekat Islam (SI), organisasi pergerakan massa modern pertama di Indonesia. Bahkan beberapa sejarawan menyebut lebih layak SI yang disebut sebagai organisasi pelopor kebangkitan nasional, bukan Budi Utomo (BU).

Tjokroaminoto dilahirkan di Madiun, 16 Agustus 1882. Berasal dari keluarga bangsawan tapi kemudian melepas gelar kebangsawanannya karena berontak pada budaya feodal yang ada. Hal ini pula yang menyebabkan beliau berselisih jalan dengan mertuanya, wakil bupati Ponorogo saat itu. Beliau memilih hidup sederhana di Surabaya dengan istri dan kelima anaknya sambil menyewakan rumahnya untuk indekos. Di rumahnya inilah kelak, para tokoh pergerakan yang indekos akan mewarnai sejarah Indonesia dengan  “cara perjuangannya” masing-masing. Ada Sukarno remaja yang kelak mendirikan Partai Nasional Indonesia (PNI) dan Presiden Pertama RI, Kartosuwiryo pendiri gerakan dan imam besar Negara Islam Indonesia (NII)/Darul Islam (DI), serta trio Muso-Alimin-Semaun yang akan mendirikan Partai Komunis Indonesia.

Bisa ditebak, perbedaan ideologi dan cara juang diantara ketiga murid beliau akhirnya jadi bom waktu yang meledak!

Selengkapnya »HOS Tjokroaminoto: Guru Bapak Bangsa

Kutipan-kutipan yang Patut Direnungi dari Bumi Manusia

Bumi Manusia, Tetralogi Buru, Pramoedya Ananta Toer

Bumi Manusia, Cetakan Ketiga, Hasta Mitra, 1980.

Bumi manusia adalah salah satu bagian dari tetralogi Pulau Buru karya Pramoedya Ananta Toer. Bercerita mengenai minke dan ber-setting waktu pada akhir abad 19 di Indonesia zaman kolonialisme Belanda, yang menggambakan situasi sosial budaya yang terjadi saat itu. Seperti kita ketahui, minke yang merupakan tokoh utama dalam cerita ini adalah imajinasi Pram terhadap tokoh yang benar-benar ada, salah satu tokoh pejuang pergerakan nasional modern di Indonesia Raden Tirto Adi Suryo.

Dari sini juga dapat dilihat keluasan pengetahuan Pram terkait setiap aspek dalam cerita, yang diwakilkan oleh dialog setiap tokohnya. Berikut adalah beberapa kutipan yang menurut saya patut direnungkan dan masih relevan sampai saat ini:Selengkapnya »Kutipan-kutipan yang Patut Direnungi dari Bumi Manusia

Bening Mata Air dari Gus Mus

mencari bening mata air gus mus

Judul Buku: Mencari Bening Mata Air, Renungan A. Mustofa Bisri

Penerbit: Penerbit Buku Kompas

Tahun Terbit: Agustus, 2009

Kota Terbit: Jakarta

Jumlah Halaman: viii+152 halaman

Titik-Titik Hujan

Titik-titik hujan terus

Mengetuk-ngetuk malam dinginku

 

Mengabarkan kesedihan langit

Sekali-kali kulihat kilat

Matanya yang geram tajam

Menyeruak pekat

 

Seperti mencariku hendak menikam

Hatiku yang kecil kecut

 

Kupeluk diriku kencang-kencang

Dalam gigil yang semakin dahsyat

 

Tuhan, selimutilah aku

Dengan rahmatMu.

 

Puisi diatas adalah pembuka buku ini, tepat diletakkan pada halaman pertama buku. Seperti keterangan dalam pengantar dari penerbit, semua materi dalam buku ini, baik itu tulisan materi buku, puisi, kata mutiara dan kaligrafi adalah karya dari K.H. A. Mustofa Bisri atau yang biasa dipanggil sebagai Gus Mus. Beliau memang sudah dikenal sebagai Kiai Ulama yang budayawan, banyak karya beliau yang berupa sastra puisi maupun buku tentang ilmu agama.

Isi buku ini diambil dari tulisan-tulisan beliau di GusMus.net. Terdiri dari berbagai bab mulai dari teladan Nabi Muhammad, keutamaan Al Qur’an, puasa, zakat fitrah, tradisi Lebaran, tasawuf-sufi dan lainnya. Tapi saya tertarik untuk mengambil pelajaran dari bab yang bertema keseimbangan, berlaku moderat dan adil dalam kehidupan.
Dalam bab Fid-Dunya Hasanah Wafil-Akhirati Hasanah, beliau menyinggung tentang pembangunan. Tidak disebutkan dengan jelas pembangunan apa yang dimaksud,-apakah pembangunan negara atau lainnya- tapi saya artikan sebagaiSelengkapnya »Bening Mata Air dari Gus Mus