Reviu

Once Upon a Time in China: Ribetnya Wong Fei Hung Melawan Asing, Antek, dan Preman

Kalau kamu penggemar film kungfu, pasti pernah dengar nama ini: Wong Fei Hung. Bersama Bruce Lee dan IP Man, Wong Fei Hung adalah ikon film kungfu yang mungkin paling populer. Versi filmnya yang paling terkenal, Once Upon a Time in China yang dibintangi oleh Jet Li pun meraih sukses di pasaran, yang dibuktikan dengan 5 serial setelahnya.

Aku menontonnya pertama kali di RCTI, yang setiap malam tertentu menayangkan film-film aksi dari Hongkong. Film tentang Wong Fei Hung adalah film yang selalu aku tunggu, sekalipun yang ditayangkan adalah serial yang sudah pernah aku tonton.

Kenapa?Selengkapnya »Once Upon a Time in China: Ribetnya Wong Fei Hung Melawan Asing, Antek, dan Preman

Rantau 1 Muara: Akhir Kisah Sang Perantau

rantau1muara

sumber: wikipedia

Akhirnya sampai juga pada seri terakhir dari trilogi novel Negeri 5 Menara. Berkisah mengenai perjalanan Alif Fikri dari seorang anak baru gede yang gamang akan masa depannya menjadi pria dewasa yang menemukan cita dan cintanya. Bisa dibilang bahwa tumbuh kembang seorang Alif Fikri, baik dari segi usia maupun pemikiran, termonitor dengan cukup jelas dalam trilogi ini.

Bagi saya, Rantau 1 Muara menjadi menarik karena memberikan faktor makro atau peristiwa eksternal yang memang terjadi. Rantau 1 Muara diawali dengan Alif Fikri yang telah kembali dari Kanada, dan harus melanjutkan kuliah S1-nya hingga akhirnya lulus. Dengan pengalaman belajar dari luar negeri dan karya tulisnya yang sudah diakui oleh banyak media lokal, sepertinya akan mudah baginya untuk mendapatkan pekerjaan bergaji tinggi di perusahaan besar. Namun ternyata terjadi peristiwa eksternal yang tidak disangka-sangka: krisis moneter 1998. Yang berakibat pada kekacauan ekonomi makro yang segera merembet menjadi krisis multi dimensi, merujuk pada kekacauan lintas sektor yang terjadi di Indonesia. Kekacauan ekonomi disusul oleh kekacauan politik, keamanan, sosial dan hukum.Selengkapnya »Rantau 1 Muara: Akhir Kisah Sang Perantau

Ranah 3 Warna: Sebuah Usaha Mengingat Kembali

“…..Rupanya man jadda wajada saja tidak selalu cukup. Aku hanya akan seperti badak yang terus menabrak tembok tebal. Seberapa pun kuatnya badak itu, lama-lama dia akan pening dan kelelahan…..Jarak antara usaha dan hasil harus diisi dengan sebuah keteguhan hati…..”

RANAH 3 WARNA

Ranah 3 Warna

Buku ini mengantarku kepada cuplikan masa di mana diri sedang diuji kencang dan membutuhkan usaha yang sangat untuk bersabar. Kisah SMA tidak hanya menawarkan kesenangan dan kebanggaan, tapi juga ujian-ujian “kecil” yang melatih mental kita untuk siap menghadapi ujian yang lebih besar. Pun begitu dengan kisah-kisah berikutnya sampai sekarang.

Kisah Alif selepas dari Pondok Madani yang penuh seru dan debar semangat dalam Negeri 5 Menara akan menemukan Selengkapnya »Ranah 3 Warna: Sebuah Usaha Mengingat Kembali

Menyusuri Martapura: Ibukota Terakhir Kesultanan Banjar

dsc_0404

Sebelumnya hanya Bali, satu-satunya pulau di Indonesia yang pernah saya kunjungi di luar pulau Jawa. Di Bali saya merasa, budaya dan karakteristik masyarakatnya masih ada kemiripan dengan di Jawa. Mungkin karena sebagian penduduk Bali dulunya adalah orang-orang Jawa Majapahit yang berpindah ke sana.

Perjalanan ke Kalimantan ini, adalah perjalanan pertama kalinya saya ke tempat yang harusnya berbeda sama sekali baik dari  adat, budaya dan karakteristik masyarakatnya. Terlebih sebelumnya, saya sudah mendapat beberapa gambaran yang mencitrakan bagaimana karakter masyarakat Kalimantan itu.

Saya berangkat bersama beberapa teman kerja ke Banjarmasin, Kalimantan Selatan via udara dan mendarat di Bandara Syamsudin Noor. Dari Banjarmasin, saya melanjutkan perjalanan menggunakan transportasi darat menuju Martapura. Martapura sendiri adalah nama Kecamatan yang sekaligus menjadi ibukota Kabupaten Banjar,  jaraknya sekitar 40 KM dari Banjarmasin.

Mendengar Martapura, saya langsung mengaitkannya dengan intan dan rupa-rupa batu permata. apalagi waktu itu “demam batu” sedang melanda. Kota ini menjadi ibukota terakhir Kesultanan Banjar yang di masa jayanya, wilayahnya membentang dari Tanjung Sambar, Kalimantan Barat sampai ke Tanjung Aru di Kalimantan Timur.

Dalam masa dinas kerja yang sempit, hanya sejak Sabtu sore sampai dengan Minggu malam kami free, saya ingin meluangkan waktu untuk melihat-lihat objek wisata di sini. Setelah searching dan bertanya ke orang setempat, beberapa objek wisata yang bisa kami kunjungi adalah: Soto Banjar Anang, Pasar Apung, Pulau Kembang dan Pasar Intan Martapura.

  1. Soto Banjar Anang Martapura

soto-banjar-anang

kompasiana.com, kulineran.blogspot.co.id

“Sotonya Anang yang penyanyi itu?” begitu tanya saya ketika rekan kantor cabang setempat merekomendasikan kami untuk mencoba soto ini. Bukan milik Anang suaminya Ashanty ya, ini adalah soto banjar yang menjadi andalan kuliner Martapura. Kebetulan saja nama pemiliknya juga Anang. Soto Banjar ini dihidangkan dalam piring dengan telur bebek, bihun dan suwiran daging ayam.

Mungkin soal selera, namun lidah saya tidak terlalu cocok dengan sotonya. Dibilang soto tapi penyajiannya di piring dengan kuah dan nasi yang sudah bercampur. Sebenarnya lebih mirip sop kan? Tapi lumayanlah buat jadi penghangat perut di tengah cuaca yang sedang mendung.

2. Pasar Terapung di Sungai Barito

Masih ingat adegan iklan RCTI? ada ramai orang naik perahu-perahu kecil membawa sayur dan dagangan lainnya, lalu ending-nya salah satu ibu di perahu itu tersenyum dan mengacungkan ibu jari tangannya?

Ternyata lokasi iklan yang memorable itu ada di sini, pasar terapung sungai Barito. Untuk menuju ke sana, kami berangkat sebelum subuh saat mata masih kriyep-kriyep ke arah Masjid Bersejarah Sultan Suriansyah (nama sultan pertama Kesultanan Banjar). Dari sana nanti titik keberangkatan perahu yang telah kami pesan untuk menyusuri sungai Barito.

dermaga-perahu-masjid-sultan-suriansyah

Seusai sholat berjama’ah, kami segera ke dermaga kecil di depan masjid, tempat warga lokal yang menawarkan jasa sewa perahu berada. Setelah memastikan lagi soal harga, kami segera naik dan perahu pun berangkat.

Gerak perahu membawa kami menyusur lurus ke arah selatan. Suasana subuh yang syahdu dan segar memberi kesan yang berbeda. Di tepian sungai tampak rumah-rumah warga yang mulai hidup. Para penghuninya akan segera memulai hari. Suara-suara mengaji masih terdengar dari kejauhan…Selengkapnya »Menyusuri Martapura: Ibukota Terakhir Kesultanan Banjar

Gara-gara Mujigae Resto

Halo semua! Setelah tulisan terakhir tentang kuliner di Ketan Susu Kemayoran, saya akan mengulas kuliner lagi di sini.

Saya yang lidahnya sangat ndeso, yang lebih nyaman mulut dan perutnya dengan makanan lokal tertarik untuk mencoba makanan Korea gara-gara ini: Mujigae Resto!

Mujigae Resto memang sedang menjadi topik terhangat bagi para penikmat kuliner, khususnya penikmat kuliner Korea. Sudah banyak komentar positif tentang rasa makanan yang lezat dengan biaya terjangkau dari teman-teman. Sampai akhirnya, saya tidak tahan juga untuk mencoba.

Selengkapnya »Gara-gara Mujigae Resto