Ragam Kuliner Daerah Harusnya Mempersatukan, Bukan Memecah Belah

Ragam Makanan Indonesia

Ragam Makanan Indonesia (redaksi24.com)

Kebanyakan orang suka makan, termasuk saya. Kita sebagai bangsa, memiliki semacam nasionalisme (atau primordialisme?) tersendiri terhadap makanan khas Indonesia. Kita tentu tahu soal rendang yang selalu kita banggakan sebagai makanan paling lezat di dunia, dan tempe sebagai produk makanan yang dijuluki sebagai superfood karena kandungan gizinya, asli dari Indonesia.

Bahkan kalau saya boleh menyebut, lidah orang Indonesia cenderung chauvinis kalau soal makanan. Bisa kita lihat dari banyaknya orang Indonesia yang berpergian ke luar negeri membawa bumbu, sambal, dan mi instan, sebagai penambal rasa lapar lidah mereka dari hambarnya rasa makanan di sana.

Bagian dari Peradaban Masa Lalu

Sejak masa terbentuknya peradaban—mungkin antara pra-Hindu akhir dan awal peradaban Hindu—diketahui bahwa masyarakat zaman itu telah memanfaatkan berlimpahnya aneka sayuran, buah, dan segala yang tumbuh dan hidup dari tanah dan air Nusantara menjadi berbagai bahan makanan. Sayuran, buah-buahan, biji-bijian hingga daging-dagingan sudah lama diolah menjadi makanan yang kaya rasa. Pecel, rawon, dendeng, kerupuk rambak, dodol, dan dawet sudah ada sejak kurang lebih 1.000 tahun yang lalu dan eksis dikonsumsi masyarakat Nusantara modern, sampai sekarang.

Saya jadi membayangkan saat memakan nasi pecel favorit saya, yang biasanya terdiri dari daun bayam, daun singkong, capar, kacang panjang, daun kemangi, lamtoro, irisan timun kecil-kecil berbentuk kotak, dipadukan dengan nasi hangat dan siraman sambal bumbu kacang yang pedas, adalah menu yang sama dengan yang dimakan orang-orang sejak satu milenium yang lalu! Bahkan sejarah kerajaan atau kesultanan di Nusantara saja belum ada yang sepanjang itu. Keraton – Wangsa bangkit dan runtuh, namun tampaknya selera makan masyarakat abadi.

Menyerap Cita Rasa Makanan dari Peradaban Luar

Tradisi kuliner nenek moyang kita ini akhirnya akan bertemu dengan aneka kuliner dari peradaban bangsa lain yang datang ke Nusantara, seperti kuliner Cina, India, Timur Tengah, sampai Eropa-–yang dibawa oleh para penjajah—semuanya berinteraksi dalam hubungan tukar cita rasa yang dicoba, diadaptasi, hingga akhirnya menjadi khas Indonesia.

Lumpia Semarang, Mie Jawa (atau mie daerah lainnya), Siomay Bandung; martabak telur, aneka kari atau gulai; olahan daging kambing; aneka semur, sup, bistik, dan lain sebagainya adalah bentuk perkawinan antara kuliner bangsa asing dengan cita rasa Nusantara.

Kecerdikan Boga Rakyat Kecil

Di zaman para raja dan ratu menguasai hajat hidup banyak manusia di Nusantara, perbedaan derajat kehidupan antara priyayi dengan wong cilik memengaruhi tidak hanya sosial-ekonomi masyarakat, tetapi juga apa yang boleh dan tidak boleh mereka makan. Inilah yang menyebabkan rakyat ketika itu tidak bisa makan daging atau bahan makanan tertentu.

Padahal kemungkinan besar keluarga kerajaan mendapatkan bahan dan bumbu makanan tersebut dari lahan kebun atau sawah, dan peternakan yang digarap oleh rakyatnya.

Zaman penjajahan oleh bangsa-bangsa Eropa pun semakin mengekang pilihan makanan rakyat. Kali ini bukan hanya oleh aturan yang melarang makan makanan tertentu walaupun mampu mendapatkan, tetapi eksploitasi habis-habisan sumber daya alam dan manusia di Nusantara yang dilakukan oleh penjajah memang tidak memberikan rakyat banyak pilihan ketika itu.

Kemampuan ekonomi rakyat sangat terbatas, sudahlah dituntut macam-macam oleh penjajah, masih direpotkan pula oleh urusan-urusan kerajaan yang tidak sadar diri bahwa kekuasannya sudah hilang.

Mungkin karena insting kolektif masyarakat untuk bertahan hidup, segala keterbatasan memilih apa yang boleh dan mampu dimakan, membuat mereka kreatif dalam mengolah makanan. Di beberapa daerah muncul makanan khas yang dikenal sebagai makanan wong cilik seperti sate kere, sayur genjer, kerupuk aci, nasi tiwul, tengkleng, dan sebagainya, yang muncul sebagai siasat bertahan hidup dengan bahan makanan apapun yang mampu didapatkan.

Barter Cita Rasa Nusantara

Cita rasa makanan antar daerah di Indonesia berbeda-beda, selain tradisi kuliner asli lokal, juga dipengaruhi oleh pengaruh kuliner bangsa luar yang berinteraksi dengan masyarakat daerah tersebut, atau sejarah tertentu. Misalnya makanan Aceh dan Minang atau Sumatra secara umum lebih berempah dan terasa pedas diduga dipengaruhi oleh kuliner India, atau cita rasa manis dari makanan di Jawa Tengah dan Yogyakarta yang kemungkinan besar terjadi karena merebaknya perkebunan tebu saat zaman tanam paksa.

Saya sendiri sebagai orang Jawa Timur-Mataraman, terbiasa makan makanan manis maupun pedas. Kami orang Mataraman menikmati segala menu makanan rumahan Jawa khas Solo-Yogyakarta, tapi dalam versi pedasnya. Bahkan sebagai dedikasi atas rasa pedas, kami mempunyai sayur lombok, di mana lombok atau cabai yang menjadi sayurnya, irisan tempe dan tahu yang menjadi topping-nya.

Saya menikmati makanan Sunda yang asin dan pedas, makanan Aceh dan Minang yang kaya rempah, atau aneka olahan menu daging dan ikan di Makassar. Saya juga menerima perbedaan istilah pecel yang ada di Jakarta dengan Jawa Timur, menghargai takaran sajian soto Kudus dengan soto lainnya. Saya senang dengan sajian lengkap di rumah makan minang maupun di warung tegal.

Tradisi kuliner kita lebih kaya dari Singapura, Malaysia, bahkan Thailand. Kita selalu punya pilihan makanan sejak membuka mata saat bangun tidur di pagi hari, tidak terjebak pada pilihan menu sarapan menjemukan macam American Breakfast dan kelangkaan kreativitas dari British Food.

Perbedaan cita rasa, cara penyajian, atau cara makan antar daerah harusnya sudah tidak menjadi masalah. Kita sudah lama merdeka, Bung dan Nona. Tidak ada kaum feodal dan penjajah yang bisa melarang kita makan apapun, kecuali yang dilarang oleh agama dan kesehatan. Nikmati kemerdekaan dengan mencoba makanan dari luar daerahmu, dan hormati tradisi kulinernya. Ragam kuliner daerah harusnya menjadi aset, bukan pemecah belah bangsa kan?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *