Once Upon a Time in China: Ribetnya Wong Fei Hung Melawan Asing, Antek, dan Preman

Kalau kamu penggemar film kungfu, pasti pernah dengar nama ini: Wong Fei Hung. Bersama Bruce Lee dan IP Man, Wong Fei Hung adalah ikon film kungfu yang mungkin paling populer. Versi filmnya yang paling terkenal, Once Upon a Time in China yang dibintangi oleh Jet Li pun meraih sukses di pasaran, yang dibuktikan dengan 5 serial setelahnya.

Aku menontonnya pertama kali di RCTI, yang setiap malam tertentu menayangkan film-film aksi dari Hongkong. Film tentang Wong Fei Hung adalah film yang selalu aku tunggu, sekalipun yang ditayangkan adalah serial yang sudah pernah aku tonton.

Kenapa? selain karena jurus andalannya “tendangan tanpa bayangan”, film ini menampilkan sesuatu yang khas, yaitu musik pembuka filmnya. Aku memang tidak mengerti arti lirik lagunya, tapi cukup dengan musiknya, kesan ksatria dan patriotik dapat ditangkap oleh penontonnya. Musik dengan adegan pembuka –Wong Fei Hung melatih sepasukan milisi AL Kerajaan Cina di tepi pantai– digunakan pada semua serial filmya.

Maka ketika Netflix menampilkan rekomendasi film ini, aku pun segera menontonnya. Tumben lho Netflix memberikan rekomendasi film Hongkong, biasanya kan film Hollywood atau Korea.

Yang menarik, baru di kesempatan inilah aku mendapatkan gambaran yang lebih jelas tentang cerita filmnya daripada dulu saat aku menontonnya berulang kali di TV (mungkin kualitas terjemahan yang jadi penyebabnya). Karena aku melihat ada kemiripan antara film ini dengan perjuangan bangsa Indonesia melawan penjajah maupun kondisi yang dihadapi saat ini.

Mengisahkan tokoh utama bernama Wong Fei Hung, seorang pemuda yang diakui kemampuan kungfu dan pengobatannya oleh masyarakat, hingga dia dipanggil sebagai Guru Wong. Karena kemampuan kungfunya, oleh salah seorang Jenderal AL Kerajaan Cina, di mana rezim yang berkuasa saat itu adalah Dinasti Qing, menunjuknya menjadi kepala pelatih kungfu bagi tentara dan milisi kesatuannya.

Terlihat dari cara Fei Hung dan sang Jendral berinteraksi, sikap saling menghormati sangat tampak dari mereka. Sang Jendral terlihat tidak “mentang-mentang” sebagai pemberi kerja dan punya kedudukan tinggi kepada Fei Hung. Bahkan pada akhir adegan, sang Jendral yang harus menjalankan tugas negara untuk pergi berperang membantu Vietnam yang saat itu sedang diinvasi oleh Prancis, menitipkan harapannya tentang negara kepada Fei Hung dalam bentuk sebuah kipas dan arahan.

Pada kipas tersebut terdapat tulisan “Traktat yang Tidak Adil” merujuk pada perjanjian internasional yang dipaksakan oleh aliansi negara-negara Barat dan Jepang untuk mendapatkan konsensi perdagangan dan penguasaan wilayah Cina. Arahan terakhir yang disampaikan ke Fei Hung adalah menitipkan para milisi AL –yang masih kurang terlatih daripada tentara regulernya, sehingga tidak ikut dibawa berperang– kepada Fei Hung, agar terus dibina dan dilatih sebagai bentuk persiapan jika perang pecah di Cina. Ironisnya, masalah yang akan menimpa Fei Hung nanti akan disebabkan oleh ulah murid-muridnya.

Awal masalah muncul disebabkan murid-murid Fei Hung yang berkelahi dengan gerombolan preman. Niat murid-murid Fei Hung baik, membela seorang warga yang sedang dikejar gerombolan preman karena menolak membayar pungli. Celakanya, daerah berkelahi mereka merembet sampai ke wilayah orang Eropa di kota. Tentu saja, wilayah itu adalah wilayah dengan aturan khusus yang berbeda dengan bagian kota yang lain.

Fei Hung yang kebetulan ada di salah satu restoran Eropa bersama Gubernur Pemerintah Kota, Jendral Pasukan Inggris, dan Perwakilan Perusahaan Amerika Serikat, untuk mengadvokasi warga yang menjadi korban salah tembak tentara AS, malah ketiban sial. Sudah membantu menghentikan kerusuhan, tapi oleh gubernur tetap disalahkan karena salah satu pihak perusuh adalah murid-murid milisinya.

Sang Gubernur butuh seseorang untuk disalahkan agar tidak kehilangan muka di depan perwakilan Inggris dan AS. Maka kerugian akibat kerusuhan dibebankan kepada Fei Hung. Kejadian ini menjadi awal dari pergesekan Fei Hung dengan gubernur dan perwakilan AS.

Setelah kejadian tersebut, Fei Hung akan berhadapan lagi –kali ini sendirian– dengan gerombolan preman di kota. Mereka sedang melakukan penagihan “jatah preman” kepada para pemilik toko. Tapi mereka tidak terang-terangan memeras, melainkan menggunakan modus menjual jimat keberuntungan dengan harga tertentu. Pemilik toko wajib beli.

Fei Hung yang lagi chill di restoran langganannya dan bergaya dengan kacamata dan topi ala Eropa pemberian cem-cemannya, Bibi ke-13 (bukan bibi dalam arti sebenarnya), terusik oleh gerombolan preman yang sedang memeras pemilik restoran. Melihat ketidakadilan, Fei Hung pun melawan para preman tersebut, dan tentu saja, menang. Sayangnya, pemilik restoran yang sudah diselamatkannya ini menolak permintaan Fei Hung untuk bersaksi di pengadilan. Para preman pun bebas dari jeratan hukum.

Gerombolan preman yang dikalahkan tidak terima (ya gimana, dikalahin Fei Hung yang cuma sendirian) dan melancarkan aksi balas dendam dengan membakar rumah sekaligus klinik Fei Hung. Ketika aparat datang, rumahnya sudah terbakar habis, dan Fei Hung yang lagi-lagi disalahkan (ketidakadilan hukum memang sudah terjadi sejak dahulu kala gaes).

Untungnya secercah harapan datang dari seorang misionaris Barat, yang siap bersaksi atas pelaku pembakaran. Misionaris ini melihat muka pelaku saat melakukan pembakaran, namun akhirnya sang misionaris mati tertembak pada sebuah plot untuk menghabisi Fei Hung yang disusun perwakilan AS, pihak berwajib, dan gerombolan preman di suatu pertunjukan opera lokal.

Waduh, tampaknya rumit sekali ya masalah yang dihadapi Wong Fei Hung. Padahal niat awalnya cuma ingin memberi advokasi pada warga yang jadi korban tembak pada pemerintah kota dan orang Barat. Lalu membela pemilik restoran dari gerombolan preman. Kenapa Fei Hung sampai ditarget untuk dihabisi?

Alasannya adalah Fei Hung mengganggu kepentingan para penguasa yang dalam film ini direpresentasikan oleh tiga kelompok: Negara asing yang kepentingannya menjajah dan mengeruk keuntungan sebanyak-banyaknya. Saat itu Cina dikeroyok Inggris, Portugal, Rusia, Jepang, Prancis dan AS. Lalu gubernur yang tidak kompeten dan korup, serta gerombolan preman yang selama ini menindas warga kota. Padahal sesama bangsa Cina, dan sama-sama sedang susah karena imperialisme dan feodalisme.

Bahkan nanti kebohongan dari kampanye perekrutan massal yang dilakukan perusahaan AS kepada orang-orang Cina yang dijanjikan menjadi penambang emas di AS akan terbongkat. Mereka dijanjikan, setelah membayar biaya pendaftaran yang sangat tinggi akan mendapatkan fasilitas yang baik selama perjalanan hingga bekerja nanti di AS, dan emas yang melimpah. Mereka dijanjikan kekayaan. Tapi pengakuan seseorang yang berhasil kabur dari kapal yang dalam perjalanan ke AS, mereka diperlakukan seperti budak. Mereka hanya dimanfaatkan habis-habisan oleh perusahaan Sino Pasific Corporation yang dibekingi oleh militer AS.

Yang lebih parah, demi pihak AS mau bekerja sama menghabisi Fei Hung, gerombolan preman menawarkan untuk memasok banyak wanita penghibur (wanita Cina) untuk dikirimkan ke AS. Dari mana mereka akan mendapatkan banyak wanita penghibur? tentu saja dengan menculik wanita-wanita di kota yang tidak berdaya (Bibi ke-13 termasuk yang diculik!)

Hehehe, sampai di sini, kira-kira suasana kebatinan yang film ini coba sampaikan ketangkep ya? Seperti di Indonesia dahulu (kayaknya sekarang sudah nggak, kayaknya) dan banyak negara Asia lain, dalam menghadapi imperialisme bangsa Eropa, musuh itu bukan cuma yang warna kulit dan bentuk hidungnya berbeda. Tapi yang sama dengan kita pun, bisa memusuhi kita, mengkhianati kepentingan bangsanya sendiri.

Aku mendapatkan banyak pelajaran tentang nasionalisme dari film ini, meskipun ceritanya adalah tentang sejarah Cina. Toh Bung Karno dan para pemuda pejuang dahulu juga terinspirasi dari perjuangan revolusi pemuda Cina yang dipimpin oleh Sun Yat Sen (yang karakternya akan ditampilkan pada sekuel kedua film ini) dalam menggulingkan Dinasti Qing.

Cerita filmnya tidak akan aku bahas sampai selesai, jadi kalau kamu penasaran bagaimana cara Wong Fei Hung mengatasi musuh-musuhnya, tonton saja di Netflix ya!

adegan ini akan ada pada sekuel kedua

*Semua gambar diambil dari Netflix

2 tanggapan pada “Once Upon a Time in China: Ribetnya Wong Fei Hung Melawan Asing, Antek, dan Preman”

  1. Dulu pas kecil nonton ini cuma ngeliat aksi silatnya dan punya cita2 jadi jagoan kayak Wong Fei Hung. Pas ditonton sekarang emang jadi fokus ke aspek historisnya, ternyata emang bagus.

    Emang Netflix nambahin koleksi film-film dari masa keemasan sinema Hong Kong 90-an ya, kayak wuxia legendaris ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *