Mengenal Fast Moving Consumer Goods

https://unsplash.com/photos/SZOToqeG1SY

Pada tulisan tentang ritel, kita mengetahui bahwa toko ritel menjual berbagai macam produk kepada konsumen akhir.

Dari mana produk-produk itu berasal? Nah kita akan membahas sebuah industri beserta produknya yang mengisi toko-toko ritel tersebut, baik yang tradisional maupun modern. Industri itu adalah Fast Moving Consumer Goods (FMCG) atau bisa disebut dan digolongkan sebagai Consumer Goods.

 

Fast Moving Consumer Goods

Sebenarnya FMCG sudah sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari kita. Sejak mandi pagi, kita bisa menjumpainya pada pasta dan sikat gigi, sabun mandi, sabun muka, dan sampo. Ketika kita menuju ke meja makan untuk sarapan pun, ada berbagai sajian seperti roti tawar, selai, keju, jus dan susu kemasan, serta lain sebagainya. Coba buka kulkas kalian dan lihat isinya. Makanan dan minuman kemasan yang kalian simpan di kulkas adalah barang konsumen juga.

Kita mendapatkan produk FMCG tersebut dari membelinya melalui ritel modern seperti Indomart dan Transmart, atau dari warung kelontong Bang Fritz Batak dan warung sembako Cak Imron Madura. Kadang kita bisa melihat karyawan perusahaan FMCG mengecek dan mengisi kembali persediaan produk mereka atau sedang menawarkan program marketing terbaru mereka di supermarket atau warung.

Porsi produk FMCG dalam kehidupan harian kita sangat besar. Industri FMCG menawarkan banyak peluang, baik lowongan kerja maupun peluang kerja sama bisnis. Tapi, apakah kalian sudah benar-benar ngeh dengan apa itu FMCG? Selengkapnya »Mengenal Fast Moving Consumer Goods

Once Upon a Time in China: Ribetnya Wong Fei Hung Melawan Asing, Antek, dan Preman

Kalau kamu penggemar film kungfu, pasti pernah dengar nama ini: Wong Fei Hung. Bersama Bruce Lee dan IP Man, Wong Fei Hung adalah ikon film kungfu yang mungkin paling populer. Versi filmnya yang paling terkenal, Once Upon a Time in China yang dibintangi oleh Jet Li pun meraih sukses di pasaran, yang dibuktikan dengan 5 serial setelahnya.

Aku menontonnya pertama kali di RCTI, yang setiap malam tertentu menayangkan film-film aksi dari Hongkong. Film tentang Wong Fei Hung adalah film yang selalu aku tunggu, sekalipun yang ditayangkan adalah serial yang sudah pernah aku tonton.

Kenapa?Selengkapnya »Once Upon a Time in China: Ribetnya Wong Fei Hung Melawan Asing, Antek, dan Preman

4 Tips agar tidak Salah Membeli Buku

12books12months.com

12books12months.com

Berawal dari keinginan untuk merapikan koleksi buku di lemari, aku menemukan beberapa buku yang membuatku bingung kenapa dulu bisa sampai membelinya. Aku pegangi satu persatu buku tersebut dan mencoba mengingat kembali alasan membelinya. Beberapa buku yang aku beli adalah karya dari para motivator yang waktu itu sedang terkenal. Sisanya terdiri dari buku teknis dari yang aku kira akan menjadi profesiku seumur hidup, dan (yang aku kira) buku agama.
Aku menumpuk dan memisahkan buku-buku tersebut. Banyak dari buku itu yang tidak kubaca sampai selesai karena gaya penulisannya membosankan dan ceritanya sudah tidak menarik lagi. Sisanya adalah buku yang isinya tidak sesuai dengan ekspektasi ketika dulu membelinya.  Padahal tumpukan buku itu adalah bentuk pemborosan dari ruang, uang, dan waktu. Dari masalah tersebut, aku belajar beberapa hal yang bisa dilakukan untuk menghindari kesalahan dalam membeli buku terulang.Selengkapnya »4 Tips agar tidak Salah Membeli Buku

Memulai Tahun Baru dengan Membereskan Hal-Hal Kecil Terlebih Dahulu

Sudah lama sejak tulisan terakhirku di blog. Mungkin seperti kebanyakan kaum penunda sejati: menunggu waktu yang tepat untuk menulis lagi. Biasanya, awal tahun yang baru adalah waktunya.

Aku pernah menulis dengan tema tahun baru, tapi bukan tentang resolusi. Aku menulis tentang evaluasi hidup di tahun sebelumnya. Semacam introspeksi. Cukup berbeda dengan tema umum, yang biasanya mem-posting tentang cita-cita, rencana-rencana, target-target di tahun baru. Tapi akhirnya hal itu menghasilkan sesuatu yang baik bagiku. Aku memang mengawali tahun itu dengan pemikiran yang cukup jernih,  terkait juga dengan pilihan karir yang baru dan berbeda dari sebelumnya.

Beberapa kali aku membaca percakapan tentang atomic habbits di dunia maya. Percakapan tersebut membahas tentang kebiasaan kecil yang akan memengaruhi kebiasaanmu secara keseluruhan. Referensi serupa di Youtube juga merekomendasikan video-video motivasi dari perwira Navy Seal maupun U.S. Marine yang mengatakan: harimu ditentukan sejak dari kasur tempatmu tidur. Omong kosong soal menaklukkan hari kalau kita gagal merapikan tempat tidur kita. Seize the day diawali dengan rapikan kasurmu dulu!Selengkapnya »Memulai Tahun Baru dengan Membereskan Hal-Hal Kecil Terlebih Dahulu

Senyum Mereka, Orang-orang yang Kita Pinggirkan

Keluarga Gerobak/m.merdeka.com

Keluarga Gerobak (m.merdeka.com)

Bisa dibilang aku adalah orang yang susah tersenyum. Bukan berarti aku tidak pernah atau tidak bisa tersenyum lho ya. Hanya saja murah senyum bukanlah default mukaku. Sehingga kesan pertama orang padaku adalah jutek, dingin, atau kalau aku kedapatan beberapa kali tersenyum, akan disebut kalem haha.

Buat orang sepertiku—banyak orang yang juga pelit senyum sepertiku, antonim dari murah senyum—sering disalapahami dengan sedang ada masalah. Semakin jarang senyum, akan diartikan semakin berat pula masalahnya. Waduh! Padahal ya tidak begitu, memang bentukan muka saya seperti ini hehehe.

Nah dalam tulisan kali ini, aku mau mengutarakan keherananku atas beberapa fenomena yang kuamati. Aku lahir dalam keluarga sederhana di mana kebutuhan pokokku sebagai anak tercukupi: pangan, sandang, papan, dan pendidikan (dibiayai orang tua sampai S1). Dengan input seperti itu, tentu orang tuaku berharap output yang baik. Minimal bisa bekerja kantoran dengan gaji tetap tiap bulan. Pokoknya bisa masuk dalam kategori mapan, atau dalam istilah demografi ekonominya termasuk dalam warga dengan pendapatan menengah (walaupun tetap paling bawah dalam spektrum menengah wkwk).  Begitu juga dengan teman-teman yang lain, yang berasal dari kondisi keluarga yang kurang lebih sama denganku—bahkan tidak sedikit yang berasal dari tingkat kemakmuran yang jauh lebih baik.

Masuklah kami dalam rutinitas khas orang kota. Berangkat kerja-kerja-pulang kerja. Di akhir pekan bersosialisasi, berlibur, atau sesederhana beristirahat dari pagi sampai pagi lagi. Rutinitas yang kami pikir normal dan wajar. Rutinitas yang menjemukan, tetapi memberi rasa aman. Dan dari keadaan ini, kami melihat orang lain yang kami anggap tidak seberuntung kami, dengan pandang iba. Misalnya penjual keliling, kuli angkut, buruh tani, tukang gerobak sampai tukang panggilan yang sering terlihat di bawah flyover kota-kota besar.Selengkapnya »Senyum Mereka, Orang-orang yang Kita Pinggirkan